Tuesday, January 30, 2007

If you have more money, do not change your life ! You will be rich!

Selasa, 30-1-07
Bacaanku pagi ini, cerita tentang Tempe bacem & Gengsi (dari milist BA-Depok).
Susi yang biasanya membawa makan siang dari rumah, nasi dan tempe bacem yang sudah hitam, ketika naik gaji dan jabatan menjadi males bawa ompreng dari rumah lagi, karena malu, gengsi dan ingin menikmati kenikmatan sesaat dengan makan berbagai makanan di luar karena sekarang dia sudah lebih mampu bayar makanan di luar.

Suatu hari dia melihat presdirnya justru makan siang di ruangannya dengan makanan yang dibawanya dari rumah, isinya nasi, orak-arik telor campur buncis dan tempe bacem. Hanya itu.

Tanpa sadar Susi bertanya: "Pak, kok Bapak bawa makanan dari rumah sih?"
"Memangnya kenapa," tanya pak Jono.
"Ya... malu kan Pak? Masa Presiden Direktur bawa makanan dari rumah," begitu jawab Susi.
Pak Jono hanya tersenyum ramah dan menjawab: "Mengapa harus malu? Makanan ini penuh gizi, harga lebih murah, yang masak isteri saya, dan saya tidak perlu repot cari makanan lagi. Lagipula ini makanan kesukaan saya.

Akhirnya Susi kembali membawa makan siang dari rumah, nasi dan tempe bacem. Dia membawa banyak tempe bacem dan membagikannya pada teman-temannya di ruang makan. Semua temannya sangat senang bisa makan tempe bacem lagi. Rasanya sudahbertahun-tahun mereka tidak makan tempe bacem. Susi terharu melihatnya.

Kini dia baru bisa mensyukuri keadaannya. Tidak perlu malu membawamakanan dari rumah. Pak Jono saja setiap hari selalu membawa makanandari rumah. Padahal gaji dan kedudukan beliau kan lebih tinggi dariSusi? Untuk apa memboroskan uang gaji untuk makan mewah setiap hari? Sepertinya dia mengorbankan uangnya untuk membeli makanan yang lebihmahal hanya untuk kenikmatan sesaat dan untuk menuruti perasaan sombongakibat naik gaji dan naik jabatan.

If you have more money, do not change your life ! You will be rich!

Mengelola Stress, Menjadikannya Sahabat Sukses Kita

Bacaanku pagi ini, Selasa 30-1-07
Mengelola Stress, Menjadikannya Sahabat Sukses Kita...
www.portalinfaq.org
Secara sederhana, stress adalah ketimpangan kondisi harapan atau keinginan dengan kondisi sebenarnya. Oleh karenanya orang yang sedang mandi atau menggosok gigi tingkat stress nya rendah. Kenapa? Karena kita bisa dengan santai tanpa tekanan yang berarti mudah mendapatkan sabun dan pasta gigi yang sebelumnya memang sudah tersedia. Karenanya keinginan yang terlampau tinggi atau bahkan sampai pada tingkat ambisius bila tidak diiringi dengan kemampuan akan menyebabkan kita mudah stress.
Stress juga bisa karena peristiwa hidup, misalnya kehilangan seseorang atau sesuatu yang sangat dicintai. Orang bisa sampai tingkat depresi akut karena faktor ini. Bisa juga karena faktor ketiadaan dukungan sosial. Artinya orang tersebut mungkin tumbuh dalam lingkungan yang sejak kecil barangkali selalu dalam tekanan, intimidasi dan ketakutan. Jarang sekali yang menyemangati dan melingkarinya dalam suasana yang akrab dan penuh cinta.
Bisa juga karena faktor pemicu lain misalnya Stressor lingkungan, misalnya memiliki teman sekantor yang sangat pemarah, sampai iri dan memusuhi. Yang lain bisa juga karena atasan yang sukar dan tidak mendukung. Sehingga dalam melakukan pekerjaan kita menjadi sulit untuk focus dan mengembangkan kemampuan diri. Sebaliknya bekerja terlalu keras juga bisa membuat tingkat stress seseorang menjadi lebih tinggi.
Untuk point peristiwa hidup, kita seringkali lupa bahwa segala sesuatu pada hakekatnya adalah milik Alloh. Sehingga satu saat suka atau tidak suka pasti akan diambil-NYA, sebesar apapun cinta kita kepadanya. Ambisi yang terlalu tinggi dicontohkan dengan hal sederhana oleh ustadz, dengan contoh hadirin wanita yang menginginkan jodoh seperti bintang film atau penyanyi seperti Tom Cruize dan Pasya Ungu. Ya jelas saja wanita tadi akan mudah stress karena sejak awal salah pasang ambisi dan berujung sakit hati....Kontan hadirin tertawa riuh.
Tips-tips penting dalam menjadikan stress menjadi sahabat adalah membuat tujuan yang realistis, merancang ulang pekerjaan, memperbaiki sistem komunikasi dan melibatkan orang lain atau karyawan (bagi para manager) dalam pengambilan keputusan serta model seleksi yang sesuai dengan bakat dan keunggulan seseorang.
Hal-hal sederhana bagi diri pribadi untuk menghindari stress adalah dengan mengolah manajemen waktu kita, bersosialisasi, menemukan makna hidup dengan banyak menggali dari orang-orang yang baik, menguatkan hubungan dengan Sang Khalik, berolah raga (ini yang sering dilupakan orang perkotaan atau perkantoran khususnya), bermain, pijat, dan tidur yang cukup.
Jadilah cermin bagi orang lain, karena nurani tidak bisa dibohongi. Ini adalah pesan yang disampaikan ustadz Satria untuk mencari sahabat yang baik yang membuat kita termotivasi untuk lebih maju dan lebih baik dari waktu ke waktu. Jadikan Al-Qur’an bacaan wajib sekaligus media curhat kita kepada Alloh dan cobalah lakukan sholat tahajjud sebisanya, karena ini adalah rahasia sukses orang-orang yang dicintai Alloh dari dulu hingga kini. Dan terakhir teruslah belajar dan asah kemampuan serta sandarkan do’a terbaik setiap hari kepada Alloh Sang Penghulu Segala Cinta.

Monday, January 29, 2007

Keluar rumah seharian

Minggu, 28-1-07
Ketika di dalam mobil pulang dari Mesjid Kubah Emas Dian Al-Mahri Depok, Ade yang duduk di sebelahku bilang ”Aku harus berterima kasih sama Mama, karena mama menggantikan aku, jadi aku masuk ke mesjid Mama di luar” katanya sambil senyum-senyum. Dengan agak terpana aku tatap mata Ade yang kayaknya seneng banget lolos dari penjaan satpam di Mesjid itu.

Sebelumnya ketika masih di jalan mau ke arah Mesjid Kubah Emas, aku udah wanti-wanti ke Ade di mobil, kalo anak2 usia di bawah 10 tahun, yang berarti Ade dan Naura, ga boleh masuk ke pelataran Mesjid Kubah Emas, karena peraturannya begitu. Ade ngambek ”koq begitu sich. Aku juga kan ingin sholat di Mesjid, aku juga ingin lihat dalemnya Mesjid” Terlihat dia manyun dan ingin nangis. ”Nanti Mama temenin Ade di luar dech, sama Naura. Nanti kalo peraturannya sudah membolehkan anak-anak di bawah 10 tahun masuk, nanti kita ke sana lagi”. ”Memang kenapa sich koq anak-anak ga boleh masuk?!” Ade masih bersungut-sungut, raut mukanya masih ngambek. ”Katanya sich karena waktu dibuka untuk umum lebaran haji kemarin, mesjid jadi kotor, karena banyak yang datang, anak-anaknya juga banyak yang datang, jadi katanya waktu itu sampah dimana-mana, pampers juga dibuang sembarangan, rumput2nya diinjakin sama anak2, trus pohon2annya juga katanya dipetikin. Jadi pengurus mesjid membuat aturan ga boleh masuk dulu, biar dirapiin dulu, soalnya katanya belum selesai, petugasnya masih sedikit jadi belum bisa mengawasi pengunjung yang banyak”. Aku meneruskan ”Padahal Mama yakin Ade anak yang baik ya, ga bakal nginjek-nginjek rumput, ga bakal lari-lari di mesjid, ga bakal buang sampah sembarangan” Sambil kuelus-elus tangannya. Terlihat Ade diam, ga tahu masih ngambek atau dia mulai mengerti.

Kenyataannya pas di Mesjid aku malah lupa akan aturan itu, kebetulan lagi crowed banget, pengunjung banyak banget seliweran sama bis-bis yang masuk. Jadi kebetulan Ade dan Mas serta Papanya masuk ke arah Mesjid terhalang oleh Bis, jadi loloslah mereka. Eh ..aku yang jalan belakangan dengan Tia, Mela dan Naura, kena jegal dech. Karena aku dan Mela ga lagi sholat ya sudah aku temenin Mela diluar.

Subhanalloh, sungguh indah Mesjid itu. Mesjid yang sangat megah dan besar, pekarangan yang luas, lalu ada rumah yang besar juga seperti istana. Kebayang berapa biaya yang dikeluarkan untuk membangun Mesjid dsb yang ada di depan mataku. Dengan kubah berlapis emas, katanya 24 karat. Ya Alloh, aku yakin rejeki-Mu mengalir ke hamba-hamba-Mu yang tepat. Semoga Mesjid ini bisa makmur oleh umat-Mu.

Di pihak lain, memang rasa miris juga masih terlintas dipikirku. Banyaknya masyarakat Indonesia yang jauh dibawah garis kemiskinan tentunya sangat jonglang dengan kondisi Masjid ini. Mana yang lebih baik di mata Alloh, membangun mesjid megah seperti ini atau mensejahterakan masyarakat miskin di sekitar. Aku ga punya jawaban. Tapi masyarakat adalah tanggung jawab pemerintah bukan?! Bukan individu?! So?!

Hari ini kami keluar rumah seharian, dari rumah masih pagi, jam 8.30 udah jalan ke Tirta Sania - Ciseeng, mau berendam air belerang. Ngajak jalan-jalan Mamih yang sudah 2 minggu di Boong. Minggu kemarin ga kemana-mana karena ada pengajian di rumah minggunya lelaki2 itu (Papa dan TIa) "bekerja", jadi ga ada yang bisa antar.

Jalan ke TIrta Sanita lumayan mulus, kebetulan kita motong jalan lewat Jl. Jampang. Jalan setelah Telaga Kahuripan ada petunjuk arah Ciseeng. Habis kalo lewat terminal Parung, kebayang macetnya. Harga tiket masuk Dewasa Rp 6.000 anak-anak Rp. 3.500. Kalo mau berendam di kamar, ada kamar VIP masuknya Rp. 10.000/orang/20 menit. Ga tahu ada kamar tipe lain atau ngga selain yang VIP itu. Di Tirta Sania, kita ambil 3 kamar. Bau belerangnya menyengat banget, ngga kayak di Ciater. Mas, Ade dan Papa berendam di 1 kamar. Mela, Tia dan Naura 1 kamar. Mamih, aku dan Mba 1 kamar. Habis berendam enaknya tidur kali ya, soalnya ngantuk banget. Tapi kita meluncur ke arah Depok, mau ke Mesjid Kubah Emas Dian Al-mahri. Pulangnya lewat terminal Parung, ga tahu ada jalan lagi ngga ya, ga sempat hunting, macet banget cet cet cet stag banget. Udah deket mesjid juga macet lagi, banyak bus-bus besar masuk ke arah jalan kecil samping Mesjid, belum mobil2 lainnya, pejalan kaki, para tamu dan pedagang yang sengaja gelar di pelataran parkiran. Dari Mesjid ke arah Alfa Depok, aku mau nyari pompa air untuk rumah GL-3, Tia mau belanja. Alhamdulillah sampe rumah jam 6 sore, rasanya capek banget, tapi alhamdulillah Mamih nga kenapa-kenapa, sehat wal ’afiat.

Wednesday, January 17, 2007

Mengenang 10 tahun wafatnya Bapak tercinta

17 Januari 2007
Hari ini 10 tahun lalu kami mengiringi Bapak Almarhum H. Haedari Bin Hudri ke peristirahatannya yang terakhir. Tepat di ulang tahunnya yang ke-58 (17 Januari 1939 - 16 Januari 1997). Teringat kembali, waktu itu aku begitu labil, baru seminggu aku melahirkan anakku yang petama, Raihan (8 Januari 1997). Bapakpun belum sempat kami perlihatkan cucu lelakinya yang pertama, foto si cucupun belum sempat diafdruk karena filmnya masih banyak. Banyak penyesalan yang menghinggap di diriku, kenapa waktu itu ketika aku harus pulang dari RS Immanuel Bandung sehabis melahirkan, aku berniat memperlihatkan cucunya yang baru lahir kepada Bapak di ruangan lain di RS yang sama. Tetapi niatku terhadang oleh teguran suster yang tidak memperbolehkan anakku dibawa kesana, alhasil aku pamit ke Bapak dengan tidak membawa Raihan. Kenapa aku tidak berusaha menggunakan jalan pintas yang lain ?!
Lalu akupun berniat secepatnya mengafdruk foto anak2ku untuk diperlihatkan kepada Bapak, kan bisa afdruk sepotong-sepotong. Tapi terus terang waktu itu tidak ada yang bisa disuruh mengafdrukkan, wong dirumah tidak ada siapa-siapa kecuali aku, pembantuku, Aci keponakanku yang baru 2 tahun dan Raihan. Mamih kalo siang ke RS nunggu Bapak, Teteh dan Kang Asep kerja, Yana juga kerja, Tia ke kampus atau nunggu Bapak di RS juga. Suamiku masih di Jakarta. Wong aku waktu itu masih bingung menghadapi anakku yang baru lahir, tidak ada tempat bertanya, tempat minta bantuan, mana si pembantu rewel ingin pulang ke Bogor aja.
Ahhh Bapak yang berbadan tinggi besar, yang begitu kekar, yang tidak pernah bersentuhan dengan RS, makanya ketika sakit dan masuk RS, kelihatan banget kalo Bapak sangat shock dan down. Bapak merasa bahwa penyakitnya (Stroke) sangat berat, beda banget sama teman sekamarnya yang begitu bersemangat hidup padahal penyakitnya jantung, hasil operasian jantungnya aja malang melintang di dadanya.
Bapak terlihat jadi suka sakit setelah belio pensiun, mungkin post power syndrom kali ya. Bapak memang ada riwayat darah tinggi. Tetapi yang aku lihat semakin tua usianya keinginannya belajar agama Islam semakin tinggi, Setelah pensiun, Bapak itu jadi sering ke mesjid, tiap pagi dan malam tidak pernah lepas baca Al-Quran yang menurutku waktu itu bacaannya tidak bagus, tetapi Bapak terus belajar dan belajar. Kalo Mamih bilang sich Bapak itu meninggal ketika masa meninggalkan jahiliyah, ketika masa-masanya giat belajar agama.
Teringat kembali, Bapak di rumahku di Bojong itu terkenal dengan Pak Haji, begitulah sapaan para tetanggaku atau orang2 yang lewat rumahku di Bojong. Sepertinya semua mengenal belio, wong hampir tiap pagi siang dan sore nongkrong di depan rumah nungguin tukang yang sedang membangun rumahku. Ah kalo tidak ada Bapak siapa yang akan menjadi mandor para tukan itu, siapa yang mengurusi harus beli2 bahan bangunan, siapa yang mengatur pemakaian bahan-bahan bangunan yang begitu banyak berserakan.
Masih kuingat ketika aku pulang kerja kudapati Bapak sudah ada di Bojong setelah pulang dari Bandung (Bapak pulang ke Bandung 1 - 2 minggu sekali), Bapak cerita kalo pas nyampe stasiun kereta Bogor, dia lari-lari naik ke kereta dari peron yang sangat tinggi, Bapak berusaha memanjat kereta karena kereta sudah mau jalan, sudah nengnong nengnong. Yang aku kaget Bapak juga memikul kabel listrik yang 1 gulungan besar itu dari Bandung. Masya Alloh, Bapak bawa kabel segulung besar dari Bandung, naik bis trus naik kereta trus naik ojeg/becak ke rumahku. Aku sampe ngingetin Bapak, agar lain kali jangan repot2 beli barang dari Bandung, wong di Bogor atau Bojong juga ada. Kata Bapak kalo di Bandung Bapak tahu tempat yang murah. Ya Allohhhh
Trus selama di Bojong itu Bapak paling senang makan ketoprak, makanan baru yang tidak ada di Bandung. Hampir setiap hari Bapak makan siang memakai ketoprak, ketopraknya ditambah nasi lagi karena Bapak itu kalo makan, nasinya harus banyak, biar kuat katanya. Bapak punya langganan tukang ketoprak, Mas orang Jawa yang kulitnya hitam katanya, sampe sekarang tukang ketoprak itu masih suka lewat di depan rumahku.
Bapak yang keras dan tegas, masih suka ingin humor atau canda yang kalo kulihat jadi garing karena kayaknya ga pantas sama kumis baplangnya Bapak, kumisnya yang lebat dan berdiri. Aku paling ga suka kalo Bapak sun aku, sakit ketusuk-tusuk kumisnya yang berdiri dan bulunya kasar, geli banget hehehe
Ya Alloh jadikan aku dan kakak serta adik2ku menjadi anak-anak yang sholeh, yang bisa senantiasa mendo'akan Bapak, yang bisa melindungi Mamih, yang bisa mencontoh kegigihan Bapak dalam bekerja, dalam berumah tangga. Semoga segala kebaikan bapak dapat kami contoh, semoga hal-hal yang positif dari sikap Bapak dapat kami mengamalkannya juga.
Dan semoga hal yang negatifnya kami bisa menggantikannya dengan sikap yang lebih halus dan lebih baik.

Tuesday, January 9, 2007

Ualng Tahun Mas Raihan yang ke-10

Senin, 8 Jan 2007
Hari ini Ulang Tahun Mas yang ke-10.
Semoga Panjang Umur ya Mas.
Semoga Mas diberi kesempatan seluas-luasnya oleh Alloh SWT untuk beribadah di dunia ini.
Semoga semua keinginan, harapan, dan cita-cita Mas tercapai.
Semoga Mas senantiasa diberi kesehatan lahir dan bathin, jiwa dan raga, sehingga ibadah-ibadahnya Mas senantiasa sempurna.
Semoga menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, agama, dan tentunya keluarga.
Semoga bisa menjadi kebanggaan keluarga dan negara.
Semoga menjadi ahli surga.

Amiinn amiinn ya robbal ’alamiin

Di hari ultahnya Mas, Ade, Papa dan Mba pergi ke WTC M2 mau lihat Magic World. Pameran sulap. Alhamdulillah dia tampak senang walopun dia masih bilang, ”sebenarnya aku ingin belajar sulap lebih banyak lagi”. Aku memang agak keberatan mengikutkan Mas kursus sulap, habis mahal 3 juta (kursus 1 bulan/4 pertemuan @ 2jam plus alat-alat sulapnya). Mas bilang ”Kayaknya di tempat kemarin beda dech, Mungkin aja lebih murah”. Sabar ya Mas, kayaknya Mas lebih baik belajar dari buku aja, nanti kita kalo ke toko buku cari buku sulap aja ya.

Ade itu lucu bener, semalam di kamar, dia berbisik sama Mama dan Papanya. Papanya malah bener2 ditarik tangannya ke kamarku, katanya ”Pa, sini dech, aku mau bicara”. Sampe di kamar, Ade berbisik ”Besok pagi, gimana kalo kita sun rame-rame Mas ketika Mas masih tidur. Tapi jangan bilang-bilang Mas ya. Ini rahasia ya” Aku sama Papa cuman senyum2 dan mengangguk-angguk aja tanda setuju. Beberapa saat kemudian sambil berfikir dia ngomong lagi ”Tapi kalo Mas yang bangun duluan gimana ?! Nanti Mama bangunin aku ya ?!” Aku mengangguk lagi tanda setuju. Hehehe ada-ada saja gemes banget dech.