Wednesday, January 17, 2007

Mengenang 10 tahun wafatnya Bapak tercinta

17 Januari 2007
Hari ini 10 tahun lalu kami mengiringi Bapak Almarhum H. Haedari Bin Hudri ke peristirahatannya yang terakhir. Tepat di ulang tahunnya yang ke-58 (17 Januari 1939 - 16 Januari 1997). Teringat kembali, waktu itu aku begitu labil, baru seminggu aku melahirkan anakku yang petama, Raihan (8 Januari 1997). Bapakpun belum sempat kami perlihatkan cucu lelakinya yang pertama, foto si cucupun belum sempat diafdruk karena filmnya masih banyak. Banyak penyesalan yang menghinggap di diriku, kenapa waktu itu ketika aku harus pulang dari RS Immanuel Bandung sehabis melahirkan, aku berniat memperlihatkan cucunya yang baru lahir kepada Bapak di ruangan lain di RS yang sama. Tetapi niatku terhadang oleh teguran suster yang tidak memperbolehkan anakku dibawa kesana, alhasil aku pamit ke Bapak dengan tidak membawa Raihan. Kenapa aku tidak berusaha menggunakan jalan pintas yang lain ?!
Lalu akupun berniat secepatnya mengafdruk foto anak2ku untuk diperlihatkan kepada Bapak, kan bisa afdruk sepotong-sepotong. Tapi terus terang waktu itu tidak ada yang bisa disuruh mengafdrukkan, wong dirumah tidak ada siapa-siapa kecuali aku, pembantuku, Aci keponakanku yang baru 2 tahun dan Raihan. Mamih kalo siang ke RS nunggu Bapak, Teteh dan Kang Asep kerja, Yana juga kerja, Tia ke kampus atau nunggu Bapak di RS juga. Suamiku masih di Jakarta. Wong aku waktu itu masih bingung menghadapi anakku yang baru lahir, tidak ada tempat bertanya, tempat minta bantuan, mana si pembantu rewel ingin pulang ke Bogor aja.
Ahhh Bapak yang berbadan tinggi besar, yang begitu kekar, yang tidak pernah bersentuhan dengan RS, makanya ketika sakit dan masuk RS, kelihatan banget kalo Bapak sangat shock dan down. Bapak merasa bahwa penyakitnya (Stroke) sangat berat, beda banget sama teman sekamarnya yang begitu bersemangat hidup padahal penyakitnya jantung, hasil operasian jantungnya aja malang melintang di dadanya.
Bapak terlihat jadi suka sakit setelah belio pensiun, mungkin post power syndrom kali ya. Bapak memang ada riwayat darah tinggi. Tetapi yang aku lihat semakin tua usianya keinginannya belajar agama Islam semakin tinggi, Setelah pensiun, Bapak itu jadi sering ke mesjid, tiap pagi dan malam tidak pernah lepas baca Al-Quran yang menurutku waktu itu bacaannya tidak bagus, tetapi Bapak terus belajar dan belajar. Kalo Mamih bilang sich Bapak itu meninggal ketika masa meninggalkan jahiliyah, ketika masa-masanya giat belajar agama.
Teringat kembali, Bapak di rumahku di Bojong itu terkenal dengan Pak Haji, begitulah sapaan para tetanggaku atau orang2 yang lewat rumahku di Bojong. Sepertinya semua mengenal belio, wong hampir tiap pagi siang dan sore nongkrong di depan rumah nungguin tukang yang sedang membangun rumahku. Ah kalo tidak ada Bapak siapa yang akan menjadi mandor para tukan itu, siapa yang mengurusi harus beli2 bahan bangunan, siapa yang mengatur pemakaian bahan-bahan bangunan yang begitu banyak berserakan.
Masih kuingat ketika aku pulang kerja kudapati Bapak sudah ada di Bojong setelah pulang dari Bandung (Bapak pulang ke Bandung 1 - 2 minggu sekali), Bapak cerita kalo pas nyampe stasiun kereta Bogor, dia lari-lari naik ke kereta dari peron yang sangat tinggi, Bapak berusaha memanjat kereta karena kereta sudah mau jalan, sudah nengnong nengnong. Yang aku kaget Bapak juga memikul kabel listrik yang 1 gulungan besar itu dari Bandung. Masya Alloh, Bapak bawa kabel segulung besar dari Bandung, naik bis trus naik kereta trus naik ojeg/becak ke rumahku. Aku sampe ngingetin Bapak, agar lain kali jangan repot2 beli barang dari Bandung, wong di Bogor atau Bojong juga ada. Kata Bapak kalo di Bandung Bapak tahu tempat yang murah. Ya Allohhhh
Trus selama di Bojong itu Bapak paling senang makan ketoprak, makanan baru yang tidak ada di Bandung. Hampir setiap hari Bapak makan siang memakai ketoprak, ketopraknya ditambah nasi lagi karena Bapak itu kalo makan, nasinya harus banyak, biar kuat katanya. Bapak punya langganan tukang ketoprak, Mas orang Jawa yang kulitnya hitam katanya, sampe sekarang tukang ketoprak itu masih suka lewat di depan rumahku.
Bapak yang keras dan tegas, masih suka ingin humor atau canda yang kalo kulihat jadi garing karena kayaknya ga pantas sama kumis baplangnya Bapak, kumisnya yang lebat dan berdiri. Aku paling ga suka kalo Bapak sun aku, sakit ketusuk-tusuk kumisnya yang berdiri dan bulunya kasar, geli banget hehehe
Ya Alloh jadikan aku dan kakak serta adik2ku menjadi anak-anak yang sholeh, yang bisa senantiasa mendo'akan Bapak, yang bisa melindungi Mamih, yang bisa mencontoh kegigihan Bapak dalam bekerja, dalam berumah tangga. Semoga segala kebaikan bapak dapat kami contoh, semoga hal-hal yang positif dari sikap Bapak dapat kami mengamalkannya juga.
Dan semoga hal yang negatifnya kami bisa menggantikannya dengan sikap yang lebih halus dan lebih baik.

No comments: