Monday, March 5, 2007

Surat Cinta

Bacaanku pagi ini, dikasih dari Mas To (Tritoto).
Ga tahu siapa yang nulis tp email itu dr :
From: purwaka sigit
Sent: Saturday, March 03, 2007 12:07 PM

Surat Cinta

Suami saya adalah seorang yang sederhana, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.
Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus.Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen.Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.
Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.
"Mengapa?", tanya suami saya dengan terkejut."Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan," jawab saya.
Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?
Dan akhirnya suami saya bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiran kamu?"
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,"Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan merubah pikiran saya :
"Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yg ada di tebing gunung.Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?"
Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."
Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan ......
"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya.
Saya melanjutkan untuk membacanya.
"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baik kamu' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal."
"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'.Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami."
"Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu."
"Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu."
"Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir.
"Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu."
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.
"Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya.
Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu."
"Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia."
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.
Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".

Friday, March 2, 2007

Menempatkan Prioritas

Bacaan hari ini ... dikasih Mas To (Tritoto).
-----Original Message-----
From: resonansi_2002

Menempatkan Prioritas
"Many people fail in life, not for lack of ability or brains or even
courage but simply because they have never organized their energies
around a goal. – Banyak orang mengalami kegagalan, bukan karena
tidak mempunyai kemampuan maupun kecerdasan atau bahkan keberanian,
tetapi karena mereka tidak dapat mengorganisir energi mereka hanya
untuk mewujudkan tujuan yang ingin mereka capai."
Elbert Hubbard
Seorang profesor memasuki ruang kuliah sambil membawa ember
transparan berukuran sedang, batu-batu besar, kerikil, pasir dan
air. Kemudian profesor mata kuliah filosofi itu memasukkan batu-batu
besar ke dalam ember, satu per satu hingga ember itu penuh oleh batu- batu berukuran besar. Semua mahasiswa heran dan memperhatikan dengan
seksama.
Kemudian sang profesor mengajukan satu pertanyaan. "Apakah ember ini
sudah tidak dapat diisi lagi?" tanya profesor memecah keheningan.
Para mahasiswa serentak menjawab, "Ya. Masih bisa," meskipun mereka
melihat ember itu sudah penuh. Profesor itu tersenyum, lalu
menuangkan kerikil ke dalam ember itu hingga tak tersisa satu
kerikilpun di luar.
"Apakah kalian kira ember ini sudah tidak dapat diisi lagi?" tanya
profesor. Para mahasiswa agak bingung. Mereka ragu-ragu. Suara
mereka mulai terpecah. Sebagian mengatakan, "Tidak. Ember sudah
penuh!" Sementara yang lain mengatakan, "Masih bisa."
Jawaban mana yang benar akan terbukti setelah sang profesor
menuangkan pasir. Ternyata seluruh pasir dapat masuk ke dalam ember
itu, mengisi sela-sela batu besar dan kerikil. Profesor itu terus
menuangkan pasir hingga ember itu terlihat penuh sesak oleh batu,
kerikil dan pasir.
Para mahasiswa sudah dapat memastikan bahwa ember itu tidak akan
dapat diisi lagi. Maka ketika profesor bertanya, "Apakah masih bisa
diisi lagi?" Dengan kompak seluruh mahasiswa menjawab, "Tidak bisa."
Setelah mendengar jawaban para mahasiswanya, profesor itu menuangkan
air ke dalam ember hingga tak tersisa. Terbukti sudah bahwa jawaban
para mahasiswa tidak tepat, karena ternyata ember itu masih bisa
diisi dengan air.
Nilai filosofis yang ingin disampaikan oleh profesor itu adalah
manusia harus pandai menempatkan prioritas. Tempatkan impian-impian
yang besar sebagai prioritas utama (yang diibaratkan sebagai batu- batu besar). Jangan sibuk mencari dan menempatkan hal-hal yang kecil
(yang diibaratkan oleh kerikil, pasir dan air) terlebih dahulu,
karena menyebabkan kita tidak bisa mendapatkan impian yang besar
atau utama.
Kenyataan yang kita hadapi sehari-hari memang semua pekerjaan
mengklaim sebagai prioritas penting dan meminta perhatian ekstra.
Padahal dalam satu waktu kita dapat mengerjakan satu prioritas saja,
tidak bisa semuanya. Menempatkan prioritas dengan tepat memang
sangat sulit, meskipun setiap hari kita sudah sangat sibuk bekerja.
Sehingga memerlukan kecermatan untuk dapat memanajemen prioritas
yang sangat banyak.
Sebagaimana kita merasakan bahwa faktor-faktor yang sangat
mempengaruhi kehidupan kita adalah faktor kesehatan, keluarga,
keuangan, kemampuan, hubungan sosial, pekerjaan dan keimanan. Bila
kita bingung untuk memulai mengerjakan prioritas yang mana, maka
sebaiknya prioritaskan dulu kepada hal-hal yang berkenaan dengan
faktor-faktor tersebut. Prioritaskan masing-masing faktor tersebut
dalam kadar yang sama. Sebab bila kita mengabaikan salah satu
diantaranya, maka jalan kita menuju kesuksesan mungkin sedikit
terhambat.
Misalnya saja Anda memberikan kadar prioritas yang lebih besar
terhadap pekerjaan, melebihi kadar prioritas terhadap kesehatan,
keimanan, keluarga, hubungan sosial, dan lain sebagainya. Mungkin
kehidupan keluarga, hubungan sosial, spiritual, dan kesehatan akan
menjadi korbannya. Atau mungkin jika Anda kurang memprioritas diri
pada kondisi keuangan, maka kondisi prospek usaha Anda juga akan
mengalami degradasi.
Bila memang kita benar-benar harus memilih mana yang harus
diprioritaskan, maka sebaiknya prioritaskan pada kondisi spiritual
dan kesehatan diri sendiri terlebih dahulu. Bila kondisi kesehatan
dan keimanan kita prima, barulah kita dapat mengerjakan prioritas
yang lain. Karena dengan kondisi kesehatan dan keimanan yang memadai
akan menunjang upaya kita dalam menangani prioritas-prioritas yang
lain dengan lebih baik.
Langkah selanjutnya adalah menuliskan prioritas yang akan kita
kerjakan setiap hari. Sebagaimana sebuah pepatah bijak
menjelaskan, "An unfailing success plan: At each day's end, write
down the six most important things to do tomorrow; number them in
order of importance, and then do them. – Perencanaan Pencapaian
Kesuksesan: Setiap malam, tuliskan sedikitnya 6 hal penting untuk
dikerjakan besok; urutkan berdasarkan seberapa penting mereka, dan
laksanakan semua rencana itu."
Berikutnya bersikaplah konsisten untuk menyelesaikan prioritas yang
terpenting dan tetapkan batas waktu, meskipun mungkin akan terasa
kurang menyenangkan. Bersikap konsisten dalam mengerjakan prioritas
yang terpenting menjadikan kita semakin mengenal dunia dan tempat
dimana kita berada dan mendapatkan pengalaman baru yang lebih
menyenangkan. "Manusia yang paling pandai adalah yang benar-benar
mengerti akan hidup dimana ia ditempatkan," kata Hellen Keller.
Sehingga bersikap konsisten merupakan sinergi yang mempercepat dan
menghemat waktu dalam menyelesaikan prioritas-prioritas yang lain.
Langkah-langkah tersebut sebenarnya sangat sederhana, tetapi efektif
digunakan untuk menyelesaikan prioritas-prioritas yang sangat
banyak. Bila kita benar-benar dapat melaksanakan langkah-langkah
tersebut, maka kita akan dapat menyelesaikan lusinan top prioritas
tanpa kerja yang terlalu panjang, stres dengan jadwal yang padat,
ataupun panik. Sebaliknya, Anda bahkan akan mempunyai banyak waktu
untuk minum bir.
Sumber: Menempatkan Prioritas oleh Andrew Ho, penulis buku best
seller, pengusaha, dan motivator.